Memeditasikan Ateis

Serupa
hidup di desa kecil, sulit bisa hidup damai hanya dengan mengerti diri
sendiri. Dengan cara yang sama, negeri ini memang berdasarkan Panca
Sila, tapi di bagian lain dunia ada tetangga yang dengan bangganya
menyebut diri ateis. Menyebut orang berbeda dengan sebutan musuh, tidak
saja zamannya sudah lewat, tapi juga membuat kualitas kedamaian di dalam
juga menurun.
Bunganya pengertian
Membaca buku tokoh ateis Richard Dawkins berjudul
The God Delusion, sungguh sebuah pengalaman spiritual berkesan. Pertama-tama mengetahui buku ini
best seller,
terjual lebih dari dua juta kopi di seluruh dunia, itu sudah sebuah
kejutan spiritual. Kejutan karena terbiasa memandang Tuhan secara
sakral, tiba-tiba tahu jutaan tetangga kita menyangkalnya. Kedua,
mengeluarkan uang lebih dari seratus ribu rupiah membeli serangkaian
pendapat yang bersebrangan dengan keyakinan tua, lagi-lagi sebuah
perjuangan spiritual. Ketiga, membacanya halaman demi halaman sampai di
halaman nyaris 450 lebih, sungguh sebuah kursus kesabaran mengesankan.
Dan sebagaimana kerja keras lain, ada bunganya yakni pengertian.
Mengerti tidak selalu berarti mengikuti. Mengerti kerap bisa menjadi
hadiah ke orang lain sehingga kita tidak mudah menghakimi. Mengerti bisa
juga menjadi nutrisi jiwa terutama karena ada wilayah-wilayah jiwa yang
selama ini nyaris dilarang dimasuki, tiba-tiba setelah dimasuki tidak
semengerikan yang dibayangkan sebelumnya.
Bagi yang tertarik mengikuti jalan ini, yakinlah sudah mengalami
realisasi spiritualitas mendalam, sehingga bisa memperlakukan orang
berbeda seperti memperlakukan rekan sesama mahasiswa dulu yang belajar
di fakultas lain. Di luar kelihatannya berbeda, tapi kita sama yakni
sama-sama bertumbuh. Mentalitas seperti ini diperlukan karena di halaman
28 buku ini sudah berisi kutipan seperti ini: “Bila yang mengalami
halusinasi adalah seorang manusia maka ia disebut gila, jika yang
mengalami halusinasi adalah sekelompok masyarakat ia disebut agama”. Ini
belum apa-apa, yang lebih pedas lagi Dawkins menolak keras pendapat
bahwa Tuhan mencipta alam semesta. Alam semesta bagi kelompok ini adalah
hasil evolusi yang panjang. Bila mau yang paling pedas, di halaman 57
terang-terangan Dawkins menyerang Tuhan: “saya dalam posisi bersebrangan
dengan Tuhan dan segala kekuatan supra natural, di mana pun dan kapan
pun ia pernah ditemukan”.
Ingat, salah satu ciri manusia yang mengalami realisasi spiritual
mendalam, ia jauh lebih agung dari kemarahan. Semua ciptaan memerlukan
ruang untuk bertumbuh. Dengan mengerti kita bisa memberikan ruang ke
orang lain untuk bertumbuh. Sejujurnya banyak orang yang baru saja
secara ragu memasuki pekarangan rumah orang ateis kemudian kaget.
Ternyata, sama dengan kelompok pemuja Tuhan (teis), di kalangan ateis
pun ada manusia sejuk lembut, ada manusia panas. Salah satu contoh, ada
orang ateis menulis buku sejuk berjudul
Can We Be Good Without God?.
Artinya, ada orang ateis yang berniat menjadi baik. Menyangkut Dawkins,
ia memang seorang ahli biologi dari Universitas Oxford. Tapi pengertian
mendalam di sebuah bidang, bukanlah sertifikat yang memberi hak pada
seseorang untuk boleh mengomentari semua bidang. Spiritualitas mendalam
khususnya, tidak semuanya bisa dilihat oleh teleskop astronomi atau
mikroskopnya biologi. Memaksakan sebuah alat yang canggih di satu
bidang, untuk melihat keindahan di bidang lain, mudah sekali membuat
seseorang bernasib serupa pasien sakit gigi yang minta disembuhkan
tukang kayu. Argumen ini tidak saja berlaku bagi orang ateis, juga
berlaku bagi kaum teis yang mencampuradukkan antara sakit mental dengan
pencapaian spiritual.
Dengan tetap menghormati Dawkins, di jalan tua meditasi semua bentuk
ekstrimitas (ekstrim benar ekstrim salah) dihindari. Terutama karena
setiap gerakan bandul yang ekstrim, akan balik ke titik ekstrim lain.
Akibatnya, batin jadi keruh dan jauh dari kondisi hening bening yang
memungkinkan terbukanya pandangan terang. Tugas meditatif sesungguhnya
adalah menyaksikan semuanya dengan penuh belas kasih (
compassionate witness).
Dengan melaksanakan tugas meditatif ini dalam waktu lama, kemudian
bunga pengertian sekelopak demi sekelopak mekar. Cirinya, tidak saja di
kelompok kita ada kebenaran, di kelompok lain pun mungkin tersedia
kebenaran. Apa yang terlihat aneh belum tentu sesat, bisa jadi karena
kita belum memahaminya. Dengan cara seperti ini, agama dan pengetahuan
berhenti menjadi alatnya kekerasan, melainkan menjadi jembatan kedamaian
dan persahabatan.
Buahnya Compassion
Sebagai bagian untuk mengerti lebih dalam, ateis generasi pertama
(Nietszche, Marx, Freud) lahir karena dialog ilmuwan-agamawan buntu.
Agamawan berpegang pada buku suci yang menyebut Tuhan sebagai pencipta,
ateis berpegang pada teori evolusi Darwin. Dan sebagaimana kaum teis
yang memilih agama karena dibimbing orang tua khususnya, kaum ateis
(khususnya generasi ke dua yang muncul pasca tragedi serangan teroris
terhadap menara kembar New York tahun 2001 dan salah satu motornya
adalah Dwakins) sesungguhnya lahir dibimbing kemarahan dan kebencian
berlebihan. Dan bila kemarahan ini dilawan dengan kemarahan, maka mudah
ditebak akan bernasib serupa ilalang kering berjumpa api membara. Di
titik inilah kita memerlukan
holy water of compassion (air suci belas kasih).
Meminjam cerita Christina Nobel, seorang pekerja sosial di Vietnam
yang menghabiskan masa kecilnya dibuang keluarga, diperkosa anak
jalanan, kelaparan bermalam-malam, kapan saja kesedihan mendalam
mengguncang, sambil menangis ia bergumam: “saya hanya butuh satu saja
manusia di dunia ini yang mau mendengarkan saya. Dan orang yang satu ini
tidak pernah saya temukan”. Terang sekali terlihat, entah seseorang
bertumbuh di taman ateis atau teis, keduanya sama-sama haus akan air
suci belas kasih.
Dalam bahasa meditasi, rasa sakit di dalam maupun orang mencaci di
luar, keduanya serupa bayi menangis. Dan ia tidak memerlukan kemarahan,
ia memerlukan pelukan. Ini yang bisa menjelaskan kenapa kaum
fundamentalis menjadi semakin keras bila ditantang, karena bayi menangis
dicubit maka tangisannya semakin histeris. Hal serupa terjadi dengan
orang ateis. Serupa bayi menangis - untuk dicatat baik-baik sebagian
orang menjadi ateis karena kejadian traumatik berbau agama, protes ke
orangtua, mendapatkan pengertian tidak utuh tentang agama - mereka
memerlukan kasih sayang kita. Cacian tidak saja tidak produktif, malah
membuat api kemarahan mereka semakin membara, dan bisa membakar rumah
kita. Sehingga dibandingkan memusuhi orang ateis, lebih bermakna bila
bisa mengerti, syukur-syukur bisa berbagi
compassion.
Sebagaimana pengalaman membantu banyak murid meditasi yang mengalami
luka jiwa, setelah didengar, dimengerti banyak yang kemudian menangis,
tangisan ini kemudian membuka pintu kesembuhan. Inilah buah
compassion, serangkaian buah yang disarankan semua agama.
Belajar dari sejarah, dialektika teis-ateis akan terus terjadi. Karen Armstrong (penulis buku
History of God)
memang pembela teis, Richard Dawkins pembela ateis, titipan pesannya
kemudian sederhana: seberapa banyak di antara kita yang peduli berbagi
compassion pada orang yang mencaci khususnya?. Tanpa
compassion, kedua kubu (teis dan ateis) akan terus kekurangan nutrisi jiwa.(alamat: blogdetik.com)